Perlu Transfer Keterampilan & Inovasi dari Perantauan

Sep 24, 2011 No Comments by

Salah satu pendorong tertingginya tingkat kedermawanan di Indonesia adalah ajaran keagamaan dan tradisi berderma yang berakar kuat di masyarakat. Indonesia memiliki banyak tradisi lokal yang berkaitan dengan kegiatan kedermawanan atau filantropi berbasis komunitas, seperti tradisi perelek (Sunda), jimpitan (Jawa), dll. Tradisi-tradisi kedermawanan semacam ini juga terdapat di suku Batak, Minang, dan suku-suku lainnya di Indonesia dengan nama dan bentuk yang berbeda, serta masih dipraktekkan sampai sekarang. Salah satu tradisi yang berkaitan dengan kegiatan kedermawanan adalah tradisi pemberian sumbangan dari para perantau kepada keluarga atau warga lainnya di kampung halaman. Tradisi semacam ini dikenal sebagai diaspora filantropi. Diaspora filantropi, baik yang dilakukan oleh perantau lokal maupun trans-nasional, merupakan sumber daya yang potensial untuk digali secara lebih sistematis dan terukur bagi pengentasan problem-problem sosial. Tinggal bagaimana potensi tersebut dapat didayagunakan secara efektif. Potensi ini juga bisa didayagunakan untuk mengantisipasi persoalan-persoalan yang muncul sebagai dampak dari aktivitas merantau, misalnya masalah “brain-drain” (hilangnya orang-orang yang berkualitas) di kampung halaman. Berikut wawancara GALANG dengan Iwan Tjitradjaja, (Ketua Program Pasca Sarjana Departemen Antropologi, FISIP UI, mengenai potensi diaspora filantropi dan peluang serta tantangan pendayagunaannya sebagai sumber daya pembangunan.

Dilihat dari praktik-praktik filantropi yang berbasis komunitas, seberapa kuat atau jauhkah perkembangannya sekarang?

Dari pengamatan sekilas, saya masih menemukan kegiatan warga masyarakat memberikan sumbangan. Kegiatan semacam itu masih berlangsung di beberapa daerah, termasuk kelompok-kelompok masyarakat yang sama asal daerahnya yang tinggal di daerah perkotaan, seperti di Jakarta. Dan fenomena ini masih berjalan cukup kuat. Kegiatan itu sebenarnya lebih cocok disebut sebagai pertukaran sumbangan. Ada semacam rasa sungkan atau rasa malu bila ada orang yang dikenal, entah itu tetangga lama, apabila kalau masih kerabat meskipun hubungannya masih jauh, yang apabila mereka mengadakan hajatan atau sedang mengalami musibah dan mereka tidak membawa atau menyumbangkan apa-apa. Akibatnya tiap kali ada orang yang dikenal sebagai teman atau kerabat itu hajatan atau terkena musibah, orang-orang pasti akan membawa sumbangan dalam berbagai macam bentuk, di mana umumnya sekarang adalah uang. Tapi kembali saya katakan, hal ini terjadi karena ada semacam rasa kewajiban sebagai anggota dari suatu kelompok sosial, baik berbasis kelompok kekeluargaan, ataupun kelompok sesama daerah asal.

Salah satu yang potensial dalam kegiatan filantropi komunitas adalah pemberian atau kontribusi yang berkaitan dengan tradisi merantau, seperti di suku Minang, Madura, Bugis, dll. Bagaimana Anda melihat tradisi menyumbang dari para perantau di Indonesia?

Sebetulnya tradisi merantau tidak terkait dengan kelompok suku bangsa tertentu. selama di perantauan, jika perantau memiliki kehidupan yang baik, mereka mengumpulkan dana untuk disumbangkan kembali ke daerahnya guna membantu saudara-saudara mereka di daerah termasuk membantu memperbaiki infrastruktur daerah dan lain sebagainya. Siapapun yang bekerja meninggalkan keluarga pergi ke daerah perantauannya selalu didorong oleh semangat untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ketika kehidupannya lebih baik mereka akan selalu ingat untuk membantu saudara-saudara, teman-teman mereka di daerah asal yang mereka tinggalkan. Menurut saya, itu juga sebetulnya suatu bentuk aktifitas sosial yang syarat dengan potensi jiwa filantropi tadi. Bayangkan saja misalnya menjelang lebaran atau hari-hari besar lainnya. Mereka yang bekerja di kota, hidupnya harus berjuang mati-matian mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, tapi ketika pada hari raya tertentu (keagamaan), mereka memaksakan diri untuk membawa apa yang mereka punya. Bukan hanya sekedar show off tapi juga kebahagiaan yang luar biasa jika bisa memberikan sesuatu pada hari-hari itu kepada keluarga yang ditinggalkan di kampung. Jadi memang luar biasa besarnya. Hanya saja, bagaimana potensi spirit filantropis ini bisa dikembangkan untuk berbagai macam aktivitas pembangunan, seperti pembangunan lingkungan atau pembangunan sosial. Dan saya kira tinggal bagaimana kemudian pemerintah dan lembaga-lembaga  non pemerintah lainnya yang berminat untuk menumbuhkembangkan dan mengelola potensi pendanaan dari masyarakat yang sangat besar ini dapat mengambil peran secara strategis.

Kalau dibandingkan antara kedua jenis diaspora lokal dengan diaspora trans-nasional, mana yang lebih strategis untuk pengembangan filantropi ke depan?

Dua-duanya strategis. Tapi kalau melihat jumlah, tentu diaspora filantropi dalam negeri jauh lebih besar. Bayangkan kalau warga kita ini bisa diajak berfilantropi dengan cara kita sentuh rasa empati sosialnya. Saya kira untuk mengumpulkan Rp5000 sampai Rp10.000 per orang per keluarga tidak terlalu susah. Misalnya satu orang setiap bulan bisa menyumbang Rp10 ribu, bayangkan berapa banyak dana yang bisa dikumpulkan. Saya teringat salah satu tayangan TV, yaitu Oprah Winfrey show, di mana dia dan kemudian Angel Network-nya terinspirasi oleh upaya seorang anak kecil untuk menggalang dana publik untuk nasib orang-orang yang kurang beruntung. Oprah mengucapkan terima kasih kepada anak tersebut karena telah menginspirasi dirinya. Dan setelah mendengar apa yang dilakukan oleh anak itu, Oprah katakan seorang anak ini saja bisa menghasilkan begitu banyak, apalagi kalau dirinya yang melakukan. Jadi dengan bendera Angel Network-nya, Oprah Winfrey sebetulnya termotivasi, terinspirasi oleh apa yang dilakukan si anak kecil tersebut. Sementara Oprah memiliki jaringan yang sangat luas, maka semua bisa masuk. Meski nyatanya bukan hanya organisasi yang masuk, tetapi juga publik di semua level masyarakat. Di mana kita tahu, setiap kali dia lontarkan ada persoalan A atau B atau lainnya, sumbangan dari para penontonnya sangat luar biasa.

Kegiatan merantau, bagaimanapun, meninggalkan persoalan. Menurut Anda. Persoalan apa saja yang muncul selama ini?

Orang yang merantau adalah orang-orang yang secara kualitas sebagai sumber daya manusia terbaik di daerahnya. Jadi kalau mereka (SDM terbaik) merantau, yang terjadi adalah apa yang disebut sebagai “brain-drain” (hilangnya orang-orang berkualitas). Yang tersisa adalah orang-orang tua, dan sebagian orang muda yang relatif belum mapan. Jadi, bisa dibayangkan bahwa sebetulnya inovasi maupun inisiatif mereka yang tinggal dalam mengubah kehidupan yang ada di daerahnya tapi semakin sulit. Karena orang yang mampu mengubah keadaan adalah mereka yang mempunyai inisiatif dan kreatifitas, di mana semuanya itu keluar dari kampung halamannya untuk merantau. Tapi, kita juga harus pahami kenapa mereka keluar dari kampung. Mereka keluar karena frustasi dan tidak tahu apa yang bisa mereka perbuat di daerahnya. Jadi, kita lihat bahwa yang kembali ke sana hanya uangnya saja. Padahal apa yang terjadi dengan kiriman uang di kampung halaman? Ternyata terpakai lebih banyak untuk kegiatan yang konsumtif, seperti membangunan atau memperbaiki rumah, membeli barang-barang dan lain sebagainya. Tapi untuk kegiatan-kegiatan yang produktif alias jangka panjang tidak ada. Oleh karena itu, kita melihat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi sementara ini cukup “mengerikan” bagi kita untuk menatap masa depan.

Apakah kegiatan filantropi yang dilakukan oleh kelompok diaspora mampu mengatasi persoalan yang sangat urgen itu?

Mestinya iya, karena umumnya mereka pejuang yang luar biasa. Di tempat saya tinggal, ada 2 orang ibu yang meninggalkan keluarganya untuk bekerja dari pagi sampai malam. Baik berjualan nasi, jamu, maupun sayur-mayur, selain bekerja sebagai tukang cuci. Hidupnya hanya diisi kegiatan tersebut setiap hari. Lalu setiap 3 minggu mereka mengirimkan hasil jerih payah mereka. Padahal mereka sendiri tidak punya apa-apa, kalaupun ada uang yang mereka simpan adalah untuk modal  usahanya. Ketika ditanyakan uang hasil usaha mereka di kampung untuk apa? Mereka menjawab untuk biaya akan sekolah, biaya makan, pakaian, membeli TV, dan memperbaiki rumah. Jadi orang yang ditinggalkan di kampung betul-betul hanya menunggu kiriman.

Di balik krisis ekonomi, secara diam-diam ekonomi makro telah diselusupi oleh pertumbuhan ekonomi makro yang katanya hingar bingar ini. Coba bayangkan ketika mereka sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, ketika para pekerja bangunan tidak ada lagi karena usaha konstruksi bangunan sudah berkurang artinya tukang bangunan pun berkurang. Maka akan berimplikasi pada penjualan nasi mereka pun akan tidak bisa dijual lagi. Kalau pun ada, hasilnya sangat kecil sekali. Sedangkan keluarga-keluarga yang juga tertekan secara ekonomi barangkali berpikir dua kali untuk memberikan jasa cucian kepada orang lain. Karena dengan begitu, mereka akan lebih berhemat yaitu jika dikerjakan sendiri (misalnya 300 ribu sebulan). Bayangkan bila usaha kedua ibu ini collaps maka tidak ada lagi yang bisa dikirim ke kampung, dan apa yang terjadi? Sementara di kampung terbiasa konsumtif. Jadi kalau saya melihat kondisi seperti ini bisa terlarut dan pesimistis, meskipun kita melihat ada upaya yang dilakukan oleh warga melalui kelompok-kelompoknya. Misalnya, pengelolaan sampah yang dikelola untuk diambil manfaatnya sehingga menghasilkan secara ekonomi. Tentunya bisa memberikan kehidupan ekonomi yang lebih baik bagi mereka yang kekurangan. Meskipun ada kegiatan-kegiatan tersebut, kalau pemerintah sendiri tidak tanggap dan justru mengembangkan kebijakan-kebijakan dan program-program yang tidak inovatif sebetulnya dapat menciptakan situasi yang tidak kondusif  kepada orang yang benar-benar mau bekerja sama, memberikan sumbangan dan lain sebagainya. Saya kira cukup buram potret kehidupan sosial ekonomi budaya kita ke depan. Itulah risikonya kita menjalani kehidupan ekonomi yang sangat dipengaruhi orientasi post kapitalis ini. Menurut analisa ahli, ekonomi post kapitalis ini hanya sekitar 5% an atau 10% an yang mendapat manfaat dan perubahan hidup ke arah yang jauh lebih baik secara materi tapi 90% lainnya semakin susah dan terpuruk.

Bagaimana upaya yang bisa dilakukan pemerintah dan organisasi sektor nirlaba dalam mengoptimalkan potensi diaspora filantropi yang luar biasa tersebut?

Kalau saat ini, yang harus dilakukan pemerintah adalah berperan untuk mendorong kegiatan filantropi sebagai refleksi atas apa yang sudah mereka lakukan selama ini. Dan kemudian berupaya mengubah citranya. Citra pemerintah masih relatif buruk sehingga sulit dipercaya oleh rakyatnya. Kalau citra pemerintah baik, cukup banyak warga Indonesia yang bisa dimintakan sumbangannya. karena kalau dihimpun sumbangannya bisa menjadi modal pembangunan yang tidak sedikit. Citra pemerintah itu buruk karena pemerintah dianggap mau enaknya sendiri dan tidak mau memberikan pelayanan yang baik kepada publik. Dan kenyataannya korupsi merajalela dimana-mana, dari kelas yang paling bawah sampai kelas yang paling tinggi. Jadi pemerintah juga harus berubah. Maka pimpinan dan kepemimpinan baru yang tegas dan mempunyaai orientasi pada kepentingan publik, ditambah lagi dengan sikap tegas mau mereformasi birokrasi yang ada selama ini adalah harapan terbesar dari bangsa ini.

Sementara itu bagi organisasi nirlaba yang perlu dilakukan selanjutnya adalah membuka komunikasi massa yang lebih luas lagi dan efektif. Di mana isi kemunikasi itu sendiri harus membuat kegiatan-kegiatan yang konkrit dilakukan. Dengan begitu warga bisa percaya bahwa organisasi tersebut bekerja dengan benar dan bertanggungjawab. Sebagai contoh, yayasan-yayasan serupa berbasis agama namun melakukan kegiatan yang bahkan bukan kegiatan agama. Begitu juga ormas-ormas Indonesia seperti NU, Muhammadiyyah, meskipun belum dioperasikan lebih optimal dan berdaya jangkau lebih luas lagi.

Para perantau biasanya menyumbang lebih kepada organisasi kedaerahannya dibandingkan organisasi umum lainnya. Bagaimana organisasi umum bisa memanfaatkan potensi dari para perantau juga?

Menurut saya, organisasi-organisasi umum sendiri belum menunjukan apa yang sudah dilakukan. Selain itu, mereka juga belum mengkomunikasikan bahwa apa yang dilakukannya memang benar untuk kepentingan umum. Di sinilah sebenarnya letak kepedulian bersama dari rakyat secara keseluruhan sehingga memerlukan dukungan semua pihak. Jadi pesan kunci itu harus sampai kepada masyarakat luas. Kalau tidak sampai maka tidak akan dipercayai lagi. Komunikasi tidak bisa hanya dengan pasang iklan, melainkan organisasi juga perlu masuk ke dalam komunitas-komunitas diaspora secara langsung. Bahkan bukan hanya masuk sekedar meneliti, tetapi juga melakukan kegiatan fasilitasi. Kalau itu bisa dilakukan lebih bagus lagi, karena berarti mereka lebih kenal dengan orang-orang menjadi tulang punggung/pengurus organisasinya sehingga mengajak mereka untuk memberi kepada organisasi menjadi lebih mudah lagi.

Dikutip dari: Majalah GALANG, Vol.3, No.2, Juli 2008, Opini, halaman 112-120

Berita

About the author

lingkarLSM hadir untuk menemani pertumbuhan. Kami mengidamkan masyarakat sipil yang jujur dan punya harga diri. Kami membayangkan ribuan organisasi baru akan tumbuh dalam tahun-tahun perubahan ke depan. Inilah mimpi, tujuan dan pilihan peran kami. Paling tidak, kami sudah memberanikan diri memulai sebuah inisiatif; dan berharap langkah kecil ini akan mendorong perubahan besar.
No Responses to “Perlu Transfer Keterampilan & Inovasi dari Perantauan”

Leave a Reply