Investasi Restorasi

Jul 05, 2013 No Comments by

Dunia terus berubah. Begitu pula cara pandang kita terhadap industri kehutanan. Kekhawatiran global terhadap ancaman perubahan iklim membuat semua pihak harus meningkatkan peran dalam menjaga kelestarian alam.

Kementerian Kehutanan merintis bisnis restorasi ekosistem yang melibatkan pihak ketiga untuk mempercepat pemulihan kawasan hutan. Butuh keberanian investor dalam bisnis ini.

Bisnis ini terbilang baru dan sejauh ini yang terdengar masih kisah perjuangan para investor yang telah memulai. Konflik tata batas lahan, gesekan sosial, hingga ”serangan” pembalak liar masih menjadi tantangan utama.

Investasi restorasi memang butuh keuletan, ketekunan, dan modal yang besar karena untuk sepuluh tahun pertama perlu pengorbanan yang luar biasa. Apalagi, pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem (IUPHHK-RE) harus menanam pohon dan membenahi ekosistem kawasan hutan produksi yang rusak tanpa mengambil kayu.

Praktik ini tentu saja bertolak belakang dengan bisnis kehutanan yang dulu dikenal rakus menebang pohon dari hutan alam atau menanam pohon di hutan tanaman industri untuk ditebang lima tahun hingga enam tahun lagi sebagai bahan baku pulp. Kalau begitu, bagaimana bisnis restorasi ekosistem bisa menguntungkan?

Investor hutan restorasi akan mendapatkan keuntungan dari jasa lingkungan seperti ekowisata, air, rotan, atau madu tanpa perlu menebang kayu. Investor juga bisa menikmati kue perdagangan karbon, mekanisme kompensasi dari industri sumber polusi kepada pihak yang memelihara hutan.

Dipahami, bisnis restorasi butuh dana besar dan komitmen investor karena tidak bisa menghasilkan keuntungan dalam waktu singkat. Hal ini membuat Kemenhut lebih selektif memberikan konsesi restorasi ekosistem dan belum mengabulkan permohonan 22 unit seluas 2.638.535 hektar. Maklum, Menhut mencadangkan 7,4 juta hektar kawasan hutan produksi untuk investasi restorasi ekosistem.

Produsen pulp dan kertas APRIL yang membawahi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), produsen pulp dan kertas di Kabupaten Pelalawan, merupakan pemegang izin konsesi restorasi ekosistem terbaru. APRIL membentuk lembaga nirlaba Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang mengelola kawasan ekosistem seluas 20.265 hektar di Semenanjung Kampar, Riau.

Keberanian manajemen APRIL memutuskan terjun ke bisnis restorasi terutama di kawasan yang sempat bergejolak tersebut patut diapresiasi. Mereka memang baru memulai setelah sekian lama menikmati berkah dari hutan. Sudah sepatutnya kelompok-kelompok usaha kehutanan lain terlibat aktif menjadi pionir bisnis restorasi ekosistem. (Hamzirwan)

Sumber: KOMPAS, Selasa, 21 Mei 2013.

Berita

About the author

lingkarLSM hadir untuk menemani pertumbuhan. Kami mengidamkan masyarakat sipil yang jujur dan punya harga diri. Kami membayangkan ribuan organisasi baru akan tumbuh dalam tahun-tahun perubahan ke depan. Inilah mimpi, tujuan dan pilihan peran kami. Paling tidak, kami sudah memberanikan diri memulai sebuah inisiatif; dan berharap langkah kecil ini akan mendorong perubahan besar.
No Responses to “Investasi Restorasi”

Leave a Reply