Hutan Rakyat dan Tragedi Lingkungan

Sep 04, 2013 No Comments by

Di usia yang tak muda lagi, Joni Siswandi dan Eyang Memet AS masih semangat menggerakkan dan membina petani lahan kering (sayuran) di lereng gunung dalam kawasan Daerah Aliran Sungai Citarum. Keduanya mengarahkan para petani untuk menanam kayu keras di sela-sela tanaman semusim.

Kalau Joni (65) bergerak dalam pembibitan tanaman hutan dan penanaman hutan rakyat di Kawasan Bandung Utara (KBU), hal yang sama dilakukan Eyang Memet (60) di Kawasan Bandung Selatan (KBS). Setiap tahun, kedua orang tua itu bisa menumbuhkan hutan rakyat sekitar 50 hektar. Pada 2012/2013, misalnya, Joni melalui lembaganya, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, berhasil menumbuhkan 46,1 hektar hutan rakyat dengan 49.150 tanaman hutan, mulai dari jati putih (gmelina), jabon, hingga suren, di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Hal yang sama dilakukan Eyang melalui program Leuweung Sabilulungan (hutan milik bersama) di Blok Gunung Masigit, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. ”Kami menanami lahan itu melalui agroforestry. Untuk kehidupan sehari-hari, petani memelihara tanaman semusim seperti bawang, tomat, atau cabai,” ujar Eyang Memet yang setiap tahun bisa menumbuhkan sekitar 50 hektar hutan rakyat.

Prakarsa kedua orang tua itu benar-benar merupakan mahakarya yang luar biasa. Selain dilakukan di lereng gunung berketinggian di atas 700 meter di atas permukaan laut, jauh dari ingar-bingar kehidupan Kota Bandung, juga dilakukan tanpa pamrih.

Namun, karena komitmen yang tinggi terhadap pelestarian lingkungan seperti itu belum banyak dilakukan oleh mayoritas warga, upaya keduanya belum seimbang dengan laju kerusakan hutan. Upaya pembangunan hutan (tanaman) rakyat dan kerusakan hutan ibarat deret hitung dan deret ukur.

”Selama sembilan tahun (2000-2009) lahan hutan Citarum sudah susut 86 persen, yakni dari 72.000 hektar menjadi 9.900 hektar. Degradasi hutan ini merupakan masalah krusial di DAS Citarum,” ujar Deni Riswandani dari Komunitas Elemen Lingkungan (Elingan) Bandung Selatan.

Pada periode yang sama, luas kawasan permukiman di sepanjang DAS Citarum meningkat 115 persen dari 81.7000 hektar menjadi 176.000 hektar. Malah, lahan kritis di DAS Citarum kini mencapai sekitar 20 persen. Dari total luas DAS Citarum sekitar 718.000 hektar, yang rusak sudah mencapai 144.000 hektar.

 

Tragedi lingkungan

Saat ini setiap tahun ada 95 ton tanah per hektar erosi ke DAS Citarum, padahal tingkat erosi yang ditoleransi hanya sekitar 15 ton per hektar per tahun. Beberapa jenis ikan endemik telah punah dan langka dari aliran Sungai Citarum. Sementara beberapa jenis flora endemik di DAS Citarum juga sudah mulai langka.

Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa tidak jauh dari hulu sungai, sekitar 1.500 industri mengalirkan 2.800 ton limbah setiap hari. Semuanya merupakan limbah cair kimia bahan beracun dan berbahaya (B3), ditambah 10 ton sampah setiap hari masuk ke Waduk Saguling. Di Saguling terdapat pembangkit listrik tenaga air (PLTA), salah satu sumber energi bagi kelistrikan Pulau Jawa-Bali.

Sampai saat ini Sungai Citarum masih tercemar limbah industri, terutama yang berada di kawasan Majalaya, Bandung selatan. Limbah pabrik tekstil dibuang ke Citarum tanpa diolah terlebih dahulu. ”Kondisi ini sudah berlangsung lama dan dibiarkan merusak lingkungan dan tatanan kehidupan warga,” ujar Deni seraya menambahkan, selama ini warga Majalaya terpaksa menggunakan air limbah untuk mandi dan mencuci karena tidak ada pilihan.

Kajian perubahan iklim memprediksikan bahwa hujan di DAS Citarum mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Hujan pada musim hujan mengalami peningkatan antara 0 persen dan 10 persen, sementara pada musim kemarau menurun 5 persen hingga 25 persen. Perubahan ini akan berimplikasi pada meningkatnya risiko kekeringan ataupun banjir.

Dalam beberapa tahun ke depan, kegagalan panen padi akibat bencana iklim diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat dari kondisi saat ini. Luas wilayah terkena banjir di DAS Citarum Hulu akan terus meluas. Diperkirakan, jumlah kecamatan yang rawan banjir mencapai 28 kecamatan, terutama di 79 desa/kelurahan.

Terakhir, banjir tidak hanya terjadi di daerah langganan, yakni Kecamatan Dayeuhkolot dan Baleendah, Bandung selatan, tetapi meluas ke wilayah Rancaekek dan Cicalengka di kawasan Bandung timur. Malah, Sabtu (20/4), banjir Rancaekek merendam jalan negara Bandung-Tasikmalaya-Yogyakarta setinggi 1 meteran.

”Hari itu lalu lintas jalur selatan lumpuh total dan baru 12 jam bisa terurai, itu pun setelah air mulai surut,” ujar Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Sungai Citarum mengairi tiga PLTA, yakni Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Air sungai yang tercemar limbah beracun ini selain mengairi 420.000 hektar sawah di lumbung padi nasional Karawang, Subang, dan Indramayu, juga memasok bagi keperluan air minum 80 persen warga DKI Jakarta.

Fluktuasi debit yang tinggi sangat berpengaruh terhadap kemampuan produksi listrik. Daya PLTA terus mengalami penurunan yang cukup signifikan, khususnya pada musim kemarau. Sementara hasil analisis kerentanan menunjukkan bahwa hampir 50 persen dari desa yang ada di DAS Citarum memiliki tingkat kerentanan tinggi.

 

Hutan tanaman

Melihat luasnya lahan kritis di DAS Citarum, percepatan hutan tanaman yang dicanangkan Kementerian Kehutanan harus didukung semua pihak.

Secara nasional, pembangunan hutan tanaman akan menjadikan bumi Indonesia lebih hijau sehingga pengelolaan hutan akan lebih baik dan terarah.

Republik ini memiliki iklim yang sangat menguntungkan untuk pertumbuhan aneka ragam tanaman dan pepohonan dibandingkan dengan negara subtropis. Ada beberapa alasan kenapa hutan tanaman mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif yang tinggi, yaitu Indonesia mempunyai hamparan dan kawasan hutan yang tidak produktif sangat luas.

Pembangunan hutan tanaman akan sangat cepat menyerap emisi gas rumah kaca dan sekaligus meningkatkan cadangan karbon dalam tanah (green earth policy).

Dengan hutan tanaman, Indonesia dapat menghindar dari ancaman isu tentang non-tariff barrier, di samping terpenuhinya bahan baku untuk industri perkayuan primer dalam jumlah besar dan dalam waktu cepat (lima-delapan tahun). Pembangunan hutan tanaman sekaligus menghindari pemanfaatan hutan alam yang berlebihan sehingga keberadaan hutan alam terjamin.

”Pembangunan industri perkayuan berbasis hutan tanaman dapat membuka lapangan kerja di tingkat pedesaan dan menghasilkan devisa untuk negara,” ujar Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.

Seandainya hutan-hutan dan gunung-gunung, termasuk kawasan konservasi lain yang berguna sebagai penyimpan air dan penghasil oksigen tidak banyak dialihfungsikan untuk kegiatan lain, barangkali tidak akan ada bencana. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen dan konsistensi bersama untuk memulihkan alam.

Sumber: KOMPAS, Kamis, 04 Juli 2013.

Berita

About the author

lingkarLSM hadir untuk menemani pertumbuhan. Kami mengidamkan masyarakat sipil yang jujur dan punya harga diri. Kami membayangkan ribuan organisasi baru akan tumbuh dalam tahun-tahun perubahan ke depan. Inilah mimpi, tujuan dan pilihan peran kami. Paling tidak, kami sudah memberanikan diri memulai sebuah inisiatif; dan berharap langkah kecil ini akan mendorong perubahan besar.
No Responses to “Hutan Rakyat dan Tragedi Lingkungan”

Leave a Reply