Mau Dibawa ke Mana?

Des 25, 2013 No Comments by

Oleh: Siska Riya Sari

Apa yang Anda pikirkan tentang gambar di atas? Jika yang Anda pikirkan tentang gambar di atas adalah sebuah daratan tumpukan sampah, maka jawaban Anda benar sekali.

Ini adalah potret realita betapa sampah di abad ini tidak bisa dipandang remeh lagi. Setiap harinya selalu bertambah banyak, yang terkadang masih minim pengelolaannya. Foto di atas kalau menurut saya, ibarat bukut sampah yang ada di TPA (tempat pembuangan akhir) yang berlokasi di jalan arah ke Makbon, Sorong. Pertanyaannya adalah? Dari manakah sampah-sampah tersebut berasal? Itu juga yang sempat terbersit di pikiran saya ketika pertama kali melihat timbunan sampah yang sudah menyerupai bukit. Tampak ironis sekali, manakala kita memulai perjalanan kita di Makbon, melewati gunung-gunung yang masih hijau dan segar, hutan-hutan yang masih rimbun dengan pepohonan hijau nan segar, tiba-tiba di satu belokan, aroma sampah yang menyengat mulai tercium. Belum lagi jika Anda melihat jutaan sampah yang berada di antara pepohonan hijau tersebut.

Tak lain dan tak bukan, tentu saja bukit sampah tersebut adalah hasil karya warga Sorong dan sekitarnya sendiri. Masalah sampah memang menjadi permasalahan utama setiap kota, bedanya hanya setiap kepala daerah tentu memiliki cara bagaimana menyelesaikan permasalahan sampah ini. Sayangnya, di kota Sorong hal semacam ini belum ada yang memelopori. Seolah semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Kesadaran masyarakatnya dalam membuang sampah yang benar saja masih kurang. Sebenarnya, di TPA Makbon tersebut ada beberapa pekerja yang setiap hari selalu berusaha untuk menghancurkan gunungan sampah-sampah tersebut. Tapi, coba Anda bayangkan gunungan sampah yang entah sudah sejak kapan menjadi penghuni sejati di sana berusaha ditaklukkan hanya oleh beberapa orang yang mungkin hanya bekerja dengan otot saja. Para pekerja tersebut setiap pagi membakar jutaan sampah-sampah tadi. Tetapi masalahnya di sini adalah, bukankah tidak semua sampah dapat hancur atau terurai ketika dibakar. Lalu bagaimana dengan sampah yang tidak dapat terurai? akhirnya khan hanya tertumpuk di sana membentuk bukit sampah.

Jika anda berjalan-jalan di kota Sorong, Anda akan mudah menemukan timbunan-timbunan sampah liar yang menghiasi sudut-sudut kota. Bayangkan saja, terkadang sudah ada tempat sampah untuk membuang sampah saja, jarak 1-2 meter setelahnya, sudah muncul lagi timbunan sampah berserakan. Padahal hanya tinggal memasukkan sampah saja ke bak sampah, selesai khan ! tapi begitulah malasnya manusia, dengan santainya membuang sampah asal lempar dari motor atau mobil. Biar sampah jatuh di jalanan juga masa bodoh saja. Mengherankan!

Parahnya lagi adalah, jika di satu tempat tidak ada bak sampahnya, kemudian beberapa warga dengan seenaknya membuang sampah sembarangan. Seperti pengalaman saya hampir setiap hari. Di halaman samping rumah yang kebetulan jarang dipakai untuk akses keluar-masuk rumah, hampir tiap pagi ada sampah teronggok tak berdaya. Sampah minuman, sampah sabun cuci, sebelnya lagi saat ada sampah diapers untuk baby. Kamilah yang akhirnya dengan ikhlas hati memunguti sampah-sampah tersebut.

Padahal seandainya para warga Sorong saling bahu-membahu membuang sampah yang benar, tentu kota Sorong akan menjadi kota yang indah. Tapi entahlah, kapan itu akan terjadi? Jika pola membuang sampah masyarakat masih seperti ini, mungkin Sorong kelak akan menjadi kota terindah dengan sampah.

Sebenarnya kesadaran membuang sampah yang baik dimulai sejak dini. Terutama di lingkungan rumah. Membiasakan anak-anak dan seluruh keluarga membuang sampah secara benar di tempat sampah. Begitu pun peran pemerintah sangat diperlukan. Kalau menurut saya, peran pemerintah sampai saat ini hanya sekedar tulisan saja, belum ada tindakan nyata yang dilakukan untuk mengurangi atau mengelola sampah. Misalkan memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang pengelolaan sampah, menyediakan tempat-tempat sampah yang lebih memadai dengan memisahkan sampah basah dan kering, mengajarkan masyarakat tentang bagaimana membuat sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, dll.

Permasalahan sampah sesungguhnya bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Melainkan menjadi tanggung jawab seluruh penghuninya. Namun terkadang, entah karena malas, merasa jijik, atau merasa berduit dan sok idih menyentuh sampah sehingga membuat sampah-sampah di kota Sorong dan sekitarnya seolah enggan untuk untuk dikelola dengan baik. Contoh kecil saja, di kompleks pemukiman di kota ini masih jarang sekali kegiatan bekerja bakti bersama mengelola sampah. Seperti saya di daerah tempat tinggal saja, km 7 sudah hampir 3 tahun saya tinggal di sini tidak pernah ada kegiatan kerja bakti mengelola sampah. Terkadang kami ingin memulainya, tapi susahnya jika tidak mendapat dukungan dari masyarakat lainnya.

Finally, mengutip himbauan pemerintah yang berisi “BEBASKAN BUMI KITA DARI PENCEMARAN DAN SAMPAH” saya optimis, jika semua komponen baik pemerintah dan masyarakat, melalui kegiatan-kegiatan sosial atau pun pendidikan dan lain-lainnya jika saling bergotong royong, dengan tekad kuat mengelola sampah dengan bijaksana, insya allah sampah-sampah di bumi kita bisa teratasi dengan baik.

Sumber: Kompasiana, Senin, 25 November 2013.

Berita

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Mau Dibawa ke Mana?”

Leave a Reply