Laut Semakin Tertekan

Des 18, 2013 No Comments by

Oleh: M Zaid Wahyudi

Sejak revolusi industri dimulai pada akhir abad ke-18, laut telah menjadi tampungan berbagi limbah manusia. Meningkatnya emisi gas buang di atmosfer membuat Bumi memanas hingga turut meningkatkan suhu dan naiknya permukaan air laut. Kini, muncul lagi ancaman baru yang membuat laut makin tertekan, yaitu pengasaman laut.

Pengasaman laut sebenarnya bukan hal baru. Peningkatan emisi karbon dioksida ke atmosfer secara bersamaan akan memicu pemanasan global dan pengasaman laut. Namun, perhatian manusia terhadap peningkatan kadar asam di laut masih sangat kurang.

Setiap hari, sebanyak 25 persen karbon dioksida di angkasa diserap laut. Penyerapan itu menahan laju pemanasan global, tetapi sekaligus meningkatkan keasaman laut.

Karbon dioksida yang diserap laut akan bereaksi dengan molekul air membentuk asam karbonat. Sebagian asam karbonat akan bereaksi kembali dengan air dan menghasilkan ion bikarbonat dan ion hidrogen. Peningkatan ion hidrogen di air laut memicu meningkatnya kadar asam di laut.

Di awal revolusi industri, derajat keasaman atau kadar pH laut mencapai 8,21. Kini, turun menjadi 8,10.

PH adalah skala yang menunjukkan pertambahan ion hidrogen yang menentukan tingkat keasaman. Makin rendah pH artinya makin banyak ion hidrogen dan sifat zat makin asam. Sebaliknya, makin tinggi pH, jumlah ion hidrogen makin sedikit dan zat bersifat basa.

Penurunan pH 0,11 itu setara dengan peningkatan 28,8 persen jumlah ion hidrogen atau tingkat keasaman laut. Jika emisi karbon dioksida manusia tidak segera dikendalikan, derajat keasaman laut diperkirakan turun antara 0,2-0,4 atau meningkatkan keasaman laut hingga 150 persen pada akhir abad ke-21.

Peningkatan laju pengasaman laut juga didorong makin besarnya jumlah penduduk Bumi serta kian padatnya permukiman dan kawasan industri.

Kota-kota dengan laju pertumbuhan tinggi umumnya ada di pesisir, termasuk di Indonesia. Saat ini, 60 persen penduduk Bumi tinggal di pesisir dan mencapai 75 persen pada 2030.

”Peningkatan keasaman selama tiga abad ini merupakan yang tertinggi selama 20 juta tahun terakhir,” kata Sam Dupont dari Departemen Biologi dan Ilmu Lingkungan Universitas Gothenburg, Swedia, dalam Forum Ilmiah Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) 2013: Aplikasi Nuklir untuk Pembangunan Kelautan Berkelanjutan di Wina, Austria, Selasa (17/9).

Meningkatnya karbon dioksida di atmosfer bukan pemicu utama naiknya keasaman laut. Pembakaran bahan bakar fosil yang memicu hujan asam dan jatuh di pesisir atau laut bisa mengganggu keseimbangan kimia air laut. Dampak hujan asam biasanya hanya bersifat lokal atau regional, bukan global.

Namun, masuknya sejumlah zat kimia ke laut, terutama nitrogen sisa pupuk pertanian dan limbah pabrik, akan meningkatkan jumlah plankton. Karena pernapasan plankton menghasilkan karbon dioksida, ledakan jumlah plankton akan meningkatkan kandungan karbon dioksida di laut dan memicu pengasaman laut.

 

Dampak

Pengasaman laut direspons organisme laut secara berbeda. Sekitar seperempat organisme laut mampu bertahan. Separuhnya berisiko mati karena fungsi dan kerja sel organisme laut yang sensitif dengan perubahan keasaman akan terganggu.

Pada manusia, penurunan pH di pembuluh darah arteri antara 0,2-0,3 dari pH normal 7,35-7,45 bisa memicu kejang, gangguan irama jantung, hingga koma. Pada biota laut, penurunan pH akan mengganggu pernapasan, fotosintesis, dan reproduksi.

Naiknya tingkat keasaman laut membuat ion karbonat yang menjadi materi penyusun kalsium karbonat diikat oleh ion hidrogen. Padahal, ion karbonat penting untuk membentuk cangkang, tulang, dan karang.

Beberapa organisme yang rentan dengan perubahan itu antara lain tiram, remis, kijing, dan siput laut yang cangkangnya akan makin tipis. Pengasaman juga akan memperlambat pertumbuhan terumbu karang. Padahal, terumbu karang kini terancam mati akibat pemutihan sebagai respons atas naiknya suhu permukaan air laut.

Kondisi ini akan mengancam rantai makanan di laut, termasuk produksi ikan yang menjadi sumber protein utama manusia di banyak negara. Ketahanan pangan yang bersumber dari hewan laut pun terancam. ”Indonesia akan mengalami kerugian besar akibat penurunan produksi ikan,” kata Rashid Sumaila, Direktur Unit Penelitian Ekonomi Perikanan di Universitas British Columbia, Kanada.

Negara yang mengandalkan perikanan tangkap pada kondisi terumbu karang, seperti Indonesia, akan mengalami kerugian paling besar. Rusaknya terumbu karang membuat aneka jenis ikan kekurangan sumber makanan. Naiknya suhu permukaan laut juga mendorong ikan bergerak menuju laut dengan suhu lebih dingin.

Walau dampak di setiap negara berbeda, pengasaman laut akan berdampak sama bagi manusia karena laut merupakan satu kesatuan sistem yang saling terhubung. Laut menyumbang separuh oksigen di Bumi, mengontrol iklim global, dan memberi makan miliaran orang per tahun. Namun, penangkapan ikan berlebih selama puluhan tahun, polusi, perusakan ekosistem laut, dan pembangunan pesisir yang tak terencana telah menghancurkan laut.

Pengurangan emisi karbon dioksida adalah kunci menekan pengasaman laut dan memperlambat pemanasan global. Langkah ini butuh kerja sama seluruh negara untuk membangun laut secara berkelanjutan.

”Menjaga laut bukan hanya wujud kepedulian kita terhadap lingkungan. Menjaga laut sejatinya menjaga diri sendiri,” kata Direktur Laboratorium Lingkungan IAEA David Osborn.

Sumber: KOMPAS, Selasa, 26 November 2013.

Berita

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Laut Semakin Tertekan”

Leave a Reply