Ekonom dari Universitas Ndeso

Feb 08, 2014 No Comments by

Awalnya Boediono ‘kebetulan’ saja kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. “Ikut-ikutan teman,” katanya.

Dia jatuh cinta pada ilmu ekonomi setelah mengikuti kuliah Mohammad Hatta, Wakil Presiden Indonesia. Pada 1961 itu, Boediono masih 18 tahun, Hatta memberikan kuliah umum di Kampus Pagelaran Keraton Yogyakarta. Hatta mengingatkan bahwa, di samping menguasai sisi teknis ilmunya, seorang ekonom juga harus memahami aspek hukum, sosial, dan politik masyarakat. “Itu benar-benar pengalaman yang membuat saya hormat kepada beliau,” katanya.

Baru setahun kuliah, ekonomi keluarganya goyah karena inflasi besar- besaran. Boediono terancam drop out. Di saat kritis itu, dia mendapat beasiswa Colombo Plan untuk belajar di University of Western Australia. Jalan hidup putra Blitar ini pun berubah.

Pada 1983, J.B. Sumarlin meminta dia menjadi Kepala Biro Ekonomi di Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. Sejak itu dia hampir selalu berada di tengah titik-titik penting perekonomian nasional.

Ketika menjabat Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, Boediono menjadi tokoh sentral di balik lepasnya Indonesia dari International Monetary Fund. Dia turut berperan membuat stabil kondisi makro ekonomi Indonesia pascakrisis 1998. Dia juga sedang menjabat Gubernur Bank Indonesia ketika perekonomian nasional diterpa krisis keuangan global pada 2008.

Meski telah malang melintang di kabinet, Boediono tetap saja bingung tatkala Susilo Bambang Yudhoyono memintanya menjadi calon wakil presidennya pada 2009. Dia merasa tak cocok, karena bukan politikus. Perlu tiga hari merenung sebelum akhirnya dia menerima pinangan itu.

Beberapa kalangan menuduh dia penganut mazhab ekonomi Neoliberal– yang membuka lebar kran privatisasi dan perdagangan bebas. Boediono membantah, “Saya ini dari universitas ndeso, masak cocok sebagai neolib?”

 

Wakil Presiden Republik Indonesia

Adik- adikku generasi muda bangsa,

Pesan apa yang dapat saya sampaikan kepada anda semua? Hanya satu: siapkan diri kalian untuk menerima estafet kepemimpinan bangsa. Proses sejarah ini tidak dapat ditolak dan tidak mungkin dielak oleh siapapun. Pada waktunya, obor harus berpindah tangan.

Pemberi obor harus legowo, optimistis, dan memberi kepercayaan penuh kepada penerima obor untuk melanjutkan perjalanan bangsa. Penerima obor harus siap, percaya diri, optimistis, dan berpikiran terbuka untuk belajar apa yang baik dan apa yang tidak baik dari generasi sebelumnya.

Ingat, setiap generasi, setiap jaman mempunyai tantangan sendiri, dan setiap generasi memiliki plus dan minusnya. Namun tugas semua generasi tetap satu: membuat Indonesia lebih baik daripada sebelumnya. Setiap generasi wajib menyerahkan Indonesia kepada generasi berikutnya dalam keadaan lebih baik daripada sewaktu diterima dari generasi sebelumnya.

Kalian adalah agen perubahan dan sekaligus agen kesinambungan. Ubahlah hal-hal yang perlu diubah, pertahankan hal-hal yang sudah baik. Indonesia yang semakin maju memerlukan perubahan. Tapi Indonesia harus tetap Indonesia yang satu, Indonesia hasil proklamasi, Indonesia yang telah menempuh perjalanan panjang sebelumnya. Maka, kalian harus arif dan bijak dalam mengelola dan memadukan perubahan dan kesinambungan, demi Indonesia yang tetap utuh dan maju

Itulah pesan saya. Saya akhiri surat ini dengan mengutip kata- kata dari filsuf Alfred North Whitehead

berikut ini:

“The art of progress is to preserve order amid change and to preserve change amid order“

Selamat menunaikan tugas sejarah kalian.

Sumber: Surat Dari & Untuk Pemimpin, Penulis: Boediono, Hal: 84-85.

Cerita Perubahan, Mengawal Perubahan

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Ekonom dari Universitas Ndeso”

Leave a Reply