Impian Kota-Kota Dunia

Sep 01, 2018 No Comments by

Berawal dari melihat slideshow foto yang dibawa ayahnya pulang bepergian ke luar negeri, imajinasi Ridwal Kamil mulai berkembang. Emil (demikian ia akrab dipanggil) memendam sebuah impian besar: ingin membangun kotanya setara dengan kota-kota dunia dalam slideshow ayahnya.

Selepas sekolah menengah atas, ia masuk Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, meskipun pilihan pertama tadinya Jurusan teknik kimia. Sejak di bangku kuliah, minatnya terus berkembang.

Emil sangat dikenal dalam industri rancang bangun. Sepanjang 2004 hingga 2009, ayah dua anak ini sudah meraih 12 penghargaan di bidang Desain Arsitektur, antara lain International Young Design Entrepreneur of the Year (IYDEY) pada 2006, BCI Asia Top 10 Award in Business Building Design for Urbane, dan BCI Asia Green Design Award for “Bottle House”.

Di dalam negeri. Karya-karya Emil bisa disaksikan antara lain berupa Museum Tsunami Aceh dan Rasuna Epicentrum. Beberapa proyek yang pernah ditanganinya adalah Marina Bay Waterfront Master Plan di Singapura, Beijing Islamic Centre Mosque di Beijing, Ras Al Kaimah Waterfront Master di Qatar, dan masih banyak rancangan lainnya.

Kini, selain menjalankan praktek di bidang arsitektur, Emil juga mengajar di almamaternya dan terlibat dalam beberapa kegiatan sosial seperti Bandung Creative City Forum dan Indonesia Berkebun yang sudah berjalan di 14 kota di Indonesia. Kegiatan lain pria yang memiliki filosofi hidup ‘to live is to give’ ini adalah menulis blog dan memberikan kultwit di Twitter.

 

Kawan-kawan yang baik,

Kala ini, saya merasa hidup di jaman yang membingungkan. Dulu saya mengira kemajuan selalu berbanding lurus dengan waktu. Ternyata saya naif. Saya menyaksikan ragam kemunduran peradaban di Tanah Air kita bergerak cepat seiring dengan waktu.

Wabah korupsi di segala penjuru adalah wajah buruk dari mundurnya peradaban kita. Korupsi sudah menelikung, beregenerasi ke kalangan anak-anak muda. Kemiskinan akut yang sering disembunyikan, juga banyak saya jumpai di kota-kota besar. Alam lingkungan pun perlahan sering dihancurkan atas nama lokomotif ekonomi. Negara kita memang sedang sakit. Ciri negara sakit adalah pemerintahnya koruptif, pebisnisnya oportunis, dan kaum intelektualnya apatis. Kita sedang di sana.

Malu rasanya kita pada ‘founding fathers’ Indonesia. Berhutang besar rasanya kita kepada anak-anak Indonesia. Karenanya kita harus selalu menjadi nakhoda kapal optimistik di tengah gelombang samudera pesimistik. Ibu saya selalu memberi pesan, jadilah manusia terbaik. Manusia yang sudah cukup dengan ego dirinya. Manusia yang konsisten mencari upaya untuk selalu bermanfaat bagi mereka di luar dirinya.

Dengan Sumpah Pemuda, dulu pemuda bersatu mendobrak nilai-nilai belenggu penjajahan. Sekarang pemuda harus bersatu untuk merekonstruksi nilai-nilai baru masa depan. Pemuda harus menjadi cerdas untuk mampu bersaing. Pemuda harus peduli untuk menjadi solusi. Dengan kecerdasan dan kepedulian, kita mampu mendorong lompatan peradaban Indonesia ke garis batas baru.

Kawan-kawan yang peduli,

Indonesia adalah negeri indah penuh masalah. Indonesia alam lingkungannya indah karena takdir Ilahi. Indonesia penuh masalah karena nasib buruk ulah kita sendiri. Takdir tidak bisa diubah, namun nasib buruk bisa diubah dengan mentalitas baru.Tahun 70-an kita bergerak berlari bersamaan dengan Korea Selatan dan Hong Kong. Namun kita lihat sekarang. Mereka berlari kencang mendekati garis finis. Sementara kita tertatih-tatih tidak menentu.

Saat negara gagal membawa kita ke arah adil dan makmur. Kita harus bergerak cepat mencari jalan baru. Jalan baru itu bernama gerakan masyarakat madani atau ‘civil society’. Masyarakat madani adalah mentalitas baru. Sebuah pola pikir bahwa hanya kita sendiri yang mengubah nasib buruk kita. Ragam contoh bisa kita lihat. Nasib buruk pendidikan diubah dengan gagasan Komunitas Indonesia Mengajar. Nasib buruk lingkungan perkotaan oleh Indonesia Berkebun. Nasib buruk anak-anak oleh Indonesia Bermain dan Indonesia Bercerita. Mereka ini mewakili belasan bahkan puluhan inisiatif masyarakat yang perlu kita dorong perjuangkan.

Mengubah dunia sudah tidak bisa dilakukan sendirian. Mengubah dunia dengan gerakan masyarakat madani hanya bisa dengan berkolaborasi. Berkelompok. Bersatu. Itulah pesan para pendiri bangsa ini dan itu pula pesan kita untuk anak-anak kita. Mari dorong peradaban baru Indonesia dengan gagasan-gagasan baru.

Jabat erat dari saya Ridwan Kamil. Waktu kita pendek, mari kita bergerak bersemangat.

Sumber: Surat Dari & Untuk Pemimpin, Penulis: Ridwan Kamil, Hal: 292-293.

Cerita Perubahan, Mengawal Perubahan, Pertumbuhan

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Impian Kota-Kota Dunia”

Leave a Reply