Pendekatan Sistem Bisnis

Mei 27, 2015 No Comments by

Mungkin ini termasuk hal yang tidak biasa, ketika seorang guru besar yang bertemu dengan seorang pengusaha besar, membicarakan soal kemiskinan di tengah riuh rendahnya mesin pabrik. Yang satu bicara panjang lebar tentang alur pikir ilmiah dalam memahami kemiskinan, yang satunya lagi membantah dengan segudang pengalaman lapangan praktik bisnisnya. Titik temu juga sulit dicapai karena kedua orang ini memiliki cara pandang dan cara pikir yang berbeda jalan. Jembatan antar ketajaman analisis dan visualisasi sintesis menjadi sangat rapuh jika keputusan yang didambakan adalah harmonisasi solusi.

Debat pun kami lanjutkan di berbagai pertemuan. Mulai dari perkampungan nelayan yang sederhana, sampai ke ruang-ruang diskusi di hotel bintang lima. Penelusuran yang bermuara dari contoh kasus, baik yang berupa contoh empiris maupun yang masih bersifat hipotesis, didiskusikan secara saksama. Beragam pustaka ilmiah maupun populer, dilahap bersama guna mencari rumusan solusi yang patut diikhtiarkan. Apabila ada yang perlu diperdalam pengetahuannya secara spesifik, maka konsultasi dengan para ahli dan pengumpulan pendapat dari para pakar juga dilaksanakan. Observasi lapangan pun dijadikan sebagai penguat metode penetapan faktor-faktor kunci.

Semua itu pada akhirnya memberikan hasil yang nyata, yaitu sebuah kesepakatan bahwa bila ditinjau dari sisi teori maupun praktik, peran dan tindakan nyata dari pemerintah dan swadaya masyarakat ternyata belum mampu mengurangi kemiskinan yang memiliki akselerasi yang sama dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Artinya apa? Ekonomi memang bertumbuh, tapi dampak terhadap pengentasan kemiskinan masih jauh panggang dari api.

Kedua kubu tersebut pun kemudian berkompromi untuk menelaah secara holistis faktor-faktor yang diperoleh, dengan menggunakan pendekatan sistem bisnis. Supaya dapat mempercepat upaya pengentasan kemiskinan. Untuk itu, ilmu sistem dan teknik-tekniknya dicoba diterapkan secara ilmiah melalui Critical System Thinking (CST). Sekarang, perhatikan foto berikut ini.

31b

Dari potret kemiskinan yang ditampilkan, kita dapat menangkap nuansa kompleksitas yang dilihat dari gaya hidup si miskin, sisi ekonomi golongan ekonomi lemah, kemelaratan keluarga dan anak-anak, serta kerusakan lingkungan. Menurut pendapat kami, andaikan persoalannya diuraikan dan dicari solusi per faktor, maka yang nantinya dihasilkan adalah solusi yang rapuh sebagai akibat dari pengaruh elemen lainnya. Oleh karena itu, buku ini mencoba menerapkan CST dalam merekayasa model-model berkarakter bisnis untuk pengentasan kemiskinan secara holistik (utuh).

Descartes dalam tulisannya di tahun 1637, yang telah melahirkan revolusi ilmiah, berargumen bahwa jika kita ingin memahami dunia dan permasalahannya, maka kita harus memprosesnya dengan metode “reduksionisme”, atau dalarn terjemahan bebasnya adalah mengurangi dan mengurai.

Keberhasilan sains dalam menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi ditunjukkan melalui kemampuannya untuk mengatasi kesulitan tertentu. Persoalan tidak akan terjadi jika metode reduksionisme digunakan dalam ilmu pengetahuan alam. Akan tetapi, metode ini menjadi sulit dan tidak efektif ketika dihadapkan pada persoalan dunia nyata yang kompleks, persoalan yang terbentuk dalam sistem sosial. Dan sekarang ini ada banyak permasalahan yang mengancam organisasi dan masyarakat.

Seperti kita ketahui bersama, sesuatu yang kompleks itu terdiri dari beragam set (gugus) bagian yang saling berhubungan. Hubungan antarbagian ini lebih penting dibandingkan sifat dari bagian itu sendiri. Sifat baru akan melahirkan kondisi baru, sebagai efek dari bagaimana bagian-bagian tersebut diorganisasikan. Selain itu, apabila hubungan antarbagian ini telah diidentifikasi, dan ternyata elemen penyusun situasi yang kompleks ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain, maka metode pemisahan (reduksi) ini tidak akan banyak membantu.

Oleh sebab itu, menurut kami, meskipun ilmu pengetahuan alam sering digunakan untuk menguji hipotesis dengan cara melakukan eksperimen di laboratorium, agar dapat mengetahui apa yang menyebabkan dan memengaruhi dari sejumlah elemen yang terbatas, tetapi pembuktiannya terhadap masalah kemiskinan sangat sulit dilakukan. Faktor penting yang terlibat di dalamnya tidak dapat dengan mudah diidentifikasikan dengan sendirinya, dan situasi kemiskinan sendiri juga tidak memiliki batasan tertentu. Selain itu, hal yang menjadi kesulitan lainnya adalah sulitnya melakukan pengulangan eksperimen (reverse engineering) terhadap penanggulangan kemiskinan, karena kondisi awalnya tidak memungkinkan untuk ditiru.

Selain sulitnya melakukan pengulangan eksperimen, dalam beberapa situasi tertentu, sejumlah eksperimen terhadap aspek sosial, dapat menimbulkan permasalahan etika. Itulah yang menyebabkan upaya kami untuk memahami kemiskinan dan memecahkan masalah sosial secara analitis menjadi tidak diuntungkan. Karena persepsi menjadi dominan ferhadap penguraian setiap elemen. Maka dari itu, kita perlu memperhitungkan perbedaan kepercayaan dengan tujuan, memperhitungkan evaluasi personal dengan situasi yang berbeda, memperhitungkan bahaya dari prediksi konseptual yang dibuat, dan memperhitungkan ka-pasitas pemikiran individual untuk melakukan prediksi.

Dari semua itu, maka usaha untuk menerapkan reduksionisme dan metode ilmiah konvensional terhadap permasalahan sosial dan kemiskinan, bukanlah merupakan hal yang menggembirakan dan mempunyai keberhasilan yang terbatas. Kami berpendapat bahwa pendekatan sistem (holistic) adalah jawabannya, sehingga diperlukan penjelasan teoretis terhadap cara berpikir sistem dan ilmu sistem.

Disarikan dari buku: Solusi Bisnis untuk Kemiskinan, Penulis: Prof. Dr. Eriyatno & Moh. Nadjikh, Hal: 29-33.

Pengelolaan, Sistem dan Mekanisme

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Pendekatan Sistem Bisnis”

Leave a Reply