Pemikiran Sistem

Jun 03, 2015 No Comments by

Pemikiran sistem adalah suatu pemahaman mengenai keterbatasan manajemen dan kemampuan untuk mengevaluasi sistem yang diajukan oleh pengajar manajemen. Suatu cara pandang komprehensif yang membuat inisiatif perubahan organisasional di masa datang mengalami keberhasilan.

Alasan terakhir adalah, pola berpikir sistem juga dapat digunakan di dunia usaha oleh manajemen yang visioner, manajemen yang bisa membaca aspirasi mengenai apa yang diperlukan perusahaan di masa datang, dan manajemen yang mempunyai suatu perasaan bahwa pemikiran sistem adalah pemikiran yang sesuai dengan situasi masa kini, atau bahkan bisa dijadikan sebagai cara-cara manajemen modern di masa datang. Namun begitu, hal ini juga membutuhkan suatu perspektif baru dalam perusahaan, yang mencakup semua kepentingan dari stakeholder, supplier, customer, dan komunitas lokal.

Pada tingkatan global, dunia telah menyaksikan hancurnya negara komunis dan kegagalan pasar bebas ala kapitalisme. Pembangunan ekonomi menuntut peran baru dari pemerintah sebagai kekuatan ekonomi dan politik, baik untuk bangsa secara keseluruhan atau untuk lokalitas wilayahnya. Cara strategis itu sendiri diperlukan untuk secara inklusif mengatasi keragaman budaya dan meningkatkan perhatian terhadap ekologi. Pada tingkatan kemasyarakatan, sering kali dikatakan mengenai kemitraan (partnership) antara stakeholder dan organisasi, atau antara sektor publik dan swasta. Integrasi dan kohesi sosial inilah yang memerlukan sistem.

Harap diingat bahwa seperti yang sudah dibahas di awal bab ini, berpikir sistem memiliki tujuan sebagai metode untuk mencari solusi. Adapun metode tersebut adalah melalui penggabungan kembali pemikiran sistem, sebagai pendekatan yang sesuai untuk penemuan dan permasalahan manajemen. Sehingga pemikiran sistem dapat menempati posisi penting untuk pengembangan disiplin ilmu terapan. Dalam konteks pemikiran sistem kritis atau Critical System Thinking (CST), berbagai model sistem yang dikaji akan membantu sebagai bagian dari rasionalisasi pluralis. Untuk meningkatkan tugas-tugas pengambilan keputusan dan permasalahan manajemen. Sehingga para praktisi dapat mengetahui keragaman sebagai suatu tanda kekuatan, bukan kelemahan dari pergerakan sistem.

Untuk permasalahan yang rumit seperti pengentasan kemiskinan, sistem adalah metode yang lebih tepat digunakan daripada metode reduksi, sebab ilmu pengetahuan alam dan statistik sering kali hanya mampu untuk menguji hipotesis dengan cara melakukan eksperimen di laboratorium agar dapat memengaruhi sejumlah elemen yang terbatas. Tetapi pembuktiannya sangat sulit dilakukan untuk permasalahan di dunia nyata ini. Faktor penting yang terlibat di dalamnya tidak dapat dengan mudah diidentifikasikan dengan sendirinya, dan permasalahan situasi ini tidak memiliki batasan tertentu. Selain itu, pengulangan eksperimen sangat sulit dilakukan terhadap permasalahan dunia nyata, karena kondisi awalnya juga tidak memungkinkan untuk ditiru.

Pemikiran kesisteman merupakan pendekatan ilmiah untuk mengkaji permasalahan. Pendekatan ini memerlukan telaah berbagai hubungan yang relevan, komplementer, dan terpercaya. Pada tahun 1968, Von Bertalanffy memperkenalkan dan mempublikasikan gagasan tentang General System Theory (GST), sebagai suatu doktrin interdisipliner yang mengupas tentang prinsip-prinsip dan model-model yang diterapkan pada sistem secara umum, dengan memperhatikan jenis dan ukuran elemen spesifik maupun daya geraknya (Eriyatno dan Sofyar, 2007).

Pemodelan pada tingkat metodologi sistem terbagi dua, yaitu Hard System Metodology (HSM) seperti teknik operasional riset dan sistem dinamis; serta Soft System Metodology (SSM) namun sering juga dimanfaatkan keandalan sistem dinamis dari HSM untuk analisis sebab akibat. Berdasarkan hal tersebut, maka pendekatan penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode SSM. Secara sederhana, pendekatan metode SSM dapat digambarkan sebagimana terlihat pada Gambar 2.1.

42b

Pemahaman sistem menurut Jackson (2005), digambarkan secara sederhana dan tepat bahwa: “a system is a complex whole the functioning of which depends on its parts and the interactions between those parts”. Dari definisi tersebut dijelaskan bahwa sistem adalah suatu keseluruhan yang kompleks. Bagian-bagian di dalamnya mempunyai fungsi tertentu yang saling bergantung, dan terdapat interaksi di antara bagian-bagian yang terdapat di dalamnya. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa suatu sistem sangat bergantung pada subsistem-subsistem yang saling menunjang antara satu sama lain.

Proses transformasi elemen dalam suatu sistem dapat dinyatakan dalam fungsi matematika, operasional logika, dan proses prosedur yang mengaitkan secara prediktif dan heuristik antara output dan input-nya. Dalam ilmu sistem, transformasi ini dikenal dengan istilah pendekatan “Kotak Gelap” (Black Box). Lantas, mengapa kami mengupas ilmu sistem dengan lebih rinci? Itu karena kami yakin bahwa kompleksitas kemiskinan sudah sedemikian ruwetnya, sehingga persoalan tersebut tidak mungkin direduksi dan disederhanakan.

Selain itu, berbagai teknik juga telah dikembangkan dalam metode SSM untuk penelitian kebijakan. Akan tetapi, teknik pengkajian yang digunakan dalam pendekatan pencarian solusi bisnis lebih bersifat komplementer daripada harmonisasi antar-aspek. Mendesain kebijakan publik adalah pengetahuan yang bersifat multidisipliner, sehingga untuk menghasilkan sintesis yang mendalam dan komprehensif, tidak cukup bila hanya menggunakan satu metode saja. Pendekatan melalui penggabungan berbagai metode dengan kombinasi teknik yang tepat, akan dapat mempertajam analisis, meningkatkan mutu desain, dan meminimalkan bias dalam pengkajian sistem bisnis.

Disarikan dari buku: Solusi Bisnis untuk Kemiskinan, Penulis: Prof. Dr. Eriyatno & Moh. Nadjikh, Hal: 39-43.

Pengelolaan, Sistem dan Mekanisme

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Pemikiran Sistem”

Leave a Reply