Kilau Mutiara di Pesisir Bau-Bau

Jun 24, 2013 2 Comments by

Laut ibarat urat nadi perekonomian Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Salah satu dari sekian banyak berkah laut yang menopang kehidupan warga adalah mutiara. Komoditas itu dibudidayakan di sebuah sudut pesisir Kota Bau-Bau. Jenis mutiara yang dibudidayakan di sini adalah mabe.

Mutiara tersebut tumbuh dengan memanfaatkan kerang Pteria penguin sebagai indungnya. Berbeda dengan mutiara lazimnya yang berbentuk bundar, mutiara mabe berbentuk setengah bundar atau yang dikenal juga dengan mutiara blister.

Namun, keindahan warna dan kilaunya tak kalah dengan mutiara bundar yang menjadi primadona perhiasan.

Budidaya mutiara di Kota Bau-Bau sudah berlangsung sejak masa Belanda sekitar awal abad XX. Bisnis ini diprakarsai oleh pengusaha Jepang yang mendirikan perusahaan budidaya mutiara di Kelurahan Palabusa, Kecamatan Lea-Lea, sekitar 40 kilometer arah timur laut Bau-Bau.

Kini, selain perusahaan bernama PT Selat Buton itu, warga sekitar juga membudidayakan mutiara secara mandiri. Banyak di antaranya merupakan karyawan atau mantan karyawan perusahaan. Namun, ada pula warga yang membudidayakan mutiara tanpa kaitan sama sekali dengan perusahaan.

Salah satu warga yang menggeluti bidang usaha ini adalah Muhajir (32). Ia sebelumnya merupakan petani rumput laut yang lazim juga dibudidayakan di perairan Palabusa. Namun, sekitar dua tahun lalu ia beralih menjalankan budidaya mutiara.

”Rumput laut sering kali rusak dan harganya jatuh,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Muhajir mengatakan, perairan Selat Buton di wilayah Palabusa memiliki kecocokan untuk budidaya mutiara karena berarus kencang dan kaya plankton. ”Arus kencang dan plankton yang melimpah dibutuhkan untuk perkembangan kerang mutiara,” ujarnya.

 

Budidaya

Budidaya mutiara dimulai dengan memasang jaring khusus berbahan nilon di perairan. Jaring itu dibiarkan selama setahun di laut. Di tempat itulah nanti kerang mabe tumbuh menjadi indung mutiara.

Setelah dibiarkan selama setahun, kerang-kerang yang hinggap di tali nilon itu pun tumbuh menjadi sebesar telapak tangan orang dewasa. Kerang-kerang itu lalu diangkat dan disuntikkan nukleus atau inti mutiara di bagian dalam cangkang.

”Setelah itu, kerang dikembalikan lagi ke laut selama sekitar tiga bulan agar mutiara membesar dan bisa dipanen,” ujar Muhajir. Ia biasanya menebar kerang mabe sebanyak lebih kurang 5.000 ekor yang telah disuntikkan nukleus.

Namun, dari jumlah itu yang dapat dipanen hanya sekitar separuh. Selama perkembangan mutiara, kerang mabe biasa terlepas dari tali atau mati. Muhajir secara berkala harus memeriksa bentangan tali dan membersihkannya dari kotoran yang melekat.

Harga jual mutiara di tingkat petani mencapai Rp 6.000 per biji. Dengan harga itu, Muhajir bisa meraup pendapatan Rp 15 juta sekali panen.

Namun, harga jual mutiara sangatlah fluktuatif. Menurut Muhajir, harga Rp 6.000 per biji paling rendah selama ini. ”Pernah harga mutiara mencapai Rp 12.000 per biji,” ujarnya. Mutiara hasil produksi warga di Palabusa dijual kepada pengepul setempat yang menjualnya lagi ke Bali.

 

Kerajinan

Selain pembudidaya, di Palabusa juga ada warga yang memanfaatkan mutiara untuk dijadikan kerajinan. Erik Santoso (22) adalah anak muda Palabusa yang menggeluti pembuatan berbagai produk berbahan cangkang mutiara, seperti bros, cincin, anting, dan kalung.

”Seluruh bahan baku diperoleh dari warga yang membudidayakan mutiara di Palabusa,” ujar Erik. Cangkang kerang mutiara yang biasa dibuang oleh para pembudidaya ia ambil lalu diolah menjadi berbagai karya seni. Namun, Erik juga membeli cangkang yang masih berisi mutiara tetapi sudah cacat dengan harga miring dari para pembudidaya.

Cangkang itu ia ukir dengan motif-motif menarik, digosok, lalu diwarnai sedemikian rupa sehingga menghasilkan mata kalung, cincin, atau bros yang indah. Harga jual produk-produk tersebut berkisar Rp 30.000-Rp 70.000 per buah.

Dalam sebulan, Erik bisa memproduksi hingga 400 barang dari bahan cangkang mutiara. Hasil kerajinan itu dijual dengan sistem menitipkan kepada beberapa teman di Kendari dan Papua. Dari usaha itu, Erik bisa memperoleh omzet berkisar Rp 2 juta-Rp 3 juta per bulan.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Bau-Bau LM Arif Rais mengatakan, budidaya mutiara menjadi salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat di Palabusa yang berpenduduk 1.693 jiwa itu. Selain mutiara, warga juga mengandalkan usaha rumput laut.

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Bau-Bau pun memberikan bantuan permodalan kepada tiga kelompok pembudidaya mutiara di Palabusa pada 2006-2007. Satu kelompok memperoleh bantuan Rp 25 juta untuk mengembangkan usaha mereka.

Mutiara menjadi berkah yang berkilauan bagi Palabusa. (MOHAMAD FINAL DAENG)

Sumber: KOMPAS, Senin, 20 Mei 2013.

Berita

About the author

lingkarLSM hadir untuk menemani pertumbuhan. Kami mengidamkan masyarakat sipil yang jujur dan punya harga diri. Kami membayangkan ribuan organisasi baru akan tumbuh dalam tahun-tahun perubahan ke depan. Inilah mimpi, tujuan dan pilihan peran kami. Paling tidak, kami sudah memberanikan diri memulai sebuah inisiatif; dan berharap langkah kecil ini akan mendorong perubahan besar.

2 Responses to “Kilau Mutiara di Pesisir Bau-Bau”

  1. rahmat wally says:

    Assalamualaikum
    pak saya mau bertanya soal pembudidaya kerang mutiara di palabusa. Apa saja permasalahan yang di hadapi oleh para petani kerang mutiara yang berada di palabusa ?
    Mohon bantuannya pak untuk tugas proposal saya
    sekian dan terimakasih

  2. Rahmat wally says:

    Permasalahan yang di hadapi oleh para petani kerang mutiara di palabusa apa saja?

Leave a Reply