Hijrah Membawa Berkah

Apr 19, 2014 No Comments by

Komaruddin “mengawal” salah satu masa kritis di Indonesia. Pada Pemilihan Umum 2004, Indonesia memasuki masa transisi untuk melaju ke fase yang lebih demokratis. Presiden dipilih langsung. Karena itu, proses pemilihan umum perlu pengawasan ketat. Di sinilah, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) berperan. Tanggung jawab itu berada di pundak Komaruddin Hidayat. “Panwaslu bekerja untuk menjadikan Pemilu 2004 titik recovery dan mengakhiri masa transisi,” kata cendekiawan yang biasa disapa “Mas Komar” itu. “Jika gagal, negara akan kian rusak.”

Keberhasilan Mas Komar mengawal pergantian pemegang kekuasaan itu tak lepas dari pengalaman masa kecilnya. Walau hidup susah, dan ditinggal ibunya sejak kecil, Komaruddin memiliki motivasi meraih keberhasilan. Sejak kecil ia akrab dengan dunia pesantren, kususnya Pondok

Pesantren Pabelan di Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Di Pesantren, sosok Kiai Hamam Ja’far berperan besar baginya. Kiai itu mengajarkan, bahwa manusia punya hak untuk merdeka, untuk hidup.. Sang guru berpesan, hidup laiknya air. Jika mandeg maka akan jadi penyakit. “Kalau bergerak, dia akan bersih,” ujarnya. Maka, Komar memutuskan untuk bergerak dan hijrah. Pada usia 18 dia merantau ke Jakarta.

Berkat ketekunannya, Komaruddin bisa meraih gelar sarjana, lalu melanjutkan pendidikannya ke luar negeri dan menggondol gelar doktor. Usai menjadi Ketua Panwaslu, Mas Komar terpilih menjadi rektor di Universitas Islam Negeri Jakarta. Komaruddin Hidayat tidak hanya berkutat di dunia akademis. Ia juga kolumnis produktif yang menyebarkan buah pikirannya di sejumlah media massa nasional dan internasional. Paling tidak tujuh buku yang menyajikan buah pikirannya sudah diterbitkan sampai saat ini.

 

Pesan Untuk Pemimipin

Alkisah terdapat seorang raja yang kaya raya dan senang sekali mengoleksi beraneka ragam hiasan emas. Di kerajaan itu hidup seorang tukang emas yang sangat ahli, sangat kreatif, dan bijak bestari sehingga sang raja menaruh hormat padanya. Mengetahui tukang emas itu sudah semakin lanjut usianya, sang Raja datang minta dibuatkan cincin seindah mungkin, siapa tahu cincin itu akan menjadi kenangan terakhir. Singkat cerita, tidak sampai sebulan tukang emas menghadap Raja menyerahkan cincin pesanannya. Sang Raja sangat gembira dan memuji cincinnya yang sangat indah. Namun, ketika tukang emas hendak permisi, sang Raja mengajukan satu permintaan: “Harap kamu tuliskan kata-kata di cincin ini, kalimat apa yang bisa mengingatkan pengalaman hidupmu yang membuat dirimu dikenal sebagai orang bijak bestari dan dihormati di istana ini.”

Tukang emas merenung sepanjang jalan. Berhari-hari, berminggu-minggu, dia belum menemukan kalimat apa yang mesti dituliskan. Dia merasa jauh lebih sulit menemukan kata-kata yang diminta Raja ketimbang membuat cincinnya. Setelah banyak merenung dan mengamati kehidupan sosial serta menerawang membaca ayat-ayat semesta, akhirnya dia memperoleh inspirasi untuk dituliskan pada cincin yang indah itu. Bunyinya: This too shall pass. Inipun akan berlalu. Orang Arab mengatakan: Kulluhu maashy. Dalam bahasa Ibrani: Gam zeh yaavor. Dalam frase Turki: Bu da gecer. Orang Yunani kuno punya frase: Panta rei. Alqur’an menyebutkan: Kullu man ‘alaiha faan. Tak ada apapun dan siapapun yang abadi. Semua akan berlalu dan berpisah dari kita.

Demikianlah, selesai menuliskan This too shall pass, cincin itu diserahkan pada raja dan langsung dikenakan di jari manisnya. Raja tidak begitu paham apa maksud tulisan itu. Aktivitas raja berlangsung seperti biasa, sampai satu saat raja menghadapi problem serius di lingkungan istana yang membuatnya tercenung sedih, duduk sendirian, dia baru memahami tulisan itu ketika tidak sengaja matanya menatap cincin yang bertuliskan: This too shall pass. Maka hati sang Raja menjadi tenang. “Problem ini pun pasti akan berlalu,” gumamnya. Emosi kesedihan dan kemarahan menjadi turun.

Di lain kesempatan, Raja menghadiri pesta yang hingar bingar. Berbagai kenikmatan hidup terhidang, berpesta ria bersama keluarga dan para tamu-tamunya. Tiba-tiba ada seorang teman yang tertarik dan memuji keindahan cincin yang dipakainya. Maka mata sang Raja lalu menatap cincin dan, lagi-lagi, terbaca: This too shall pass. Pesta kegembiraan inipun tak lama lagi pasti berlalu, gumamnya. Tak ada yang abadi. Panta rei. Semuanya mengalir bagaikan arus sungai.

Demikianlah, gara-gara sebaris kalimat yang terukir di cincin itu suasana hati, pikiran, dan sikap Raja menjadi berubah. Dia memahami dan berterima kasih pada tukang emas istana yang hidupnya terlihat tenang dan dihormati banyak orang. Bahkan lebih bahagia dari dirinya. Karena dia selalu berada dalam keseimbangan, mampu mengendalikan emosi dan pikiran baik di kala suka maupun duka. Selalu meyakini bahwa suka dan duka adalah satu paket dalam kehidupan yang mesti disikapi dengan bijak dan tenang.

Sadar bahwa hidup tidak abadi, jabatan raja pun tak lama akan berlalu, maka dia berubah total menjadi raja yang adil, pemurah, dan penolong bagi rakyatnya. Sebelum jatah umur ini pun berlalu, kata Raja pada dirinya “Saya mesti meninggalkan warisan buat rakyatku yang membuat aku akan dikenang sebagai raja yang baik dan selalu melayani dan membela rakyatku dari himpitan kebodohan, kemiskinan, dan ancaman kerajaan lain. Apa yang aku miliki adalah apa yang aku berikan pada rakyatku. Apa yang akan aku bawa mati adalah apa yang aku wariskan buat rakyatku.”

Sebagaimana sang raja, saya pun dibuat tercenung dengan kalimat pendek di atas; This too shall pass. Tanpa disadari waktu senantiasa berjalan. Semenit yang lalu sudah teramat jauh dan tidak bisa diputar kembali. Kakimu tidak akan bisa menginjakkan air yang sama di sebuah sungai, kata Heraklitos. Panta rei. Semuanya mengalir. Wal’ashri. Demi masa, Alqur’an memperingatkan. Sungguh manusia dibuntuti bayang-bayang kerugian jika tidak mampu mengisi usianya dengan iman dan amal kebajikan yang keduanya akan menjadi sayap mengantarkan perjalanan manusia untuk melanjutkan drama hidupnya setelah kematian nanti.

Bagi para pejabat negara rasanya perlu direnungkan dan dicerna dalam-dalam kalimat pendek di atas: Ini pun akan berlalu. Jangan karena usia jabatan sangat pendek dan pasti berlalu kemudian bersikap mumpungisme dengan melakukan korupsi sesuka hati. Usia sebuah jabatan itu sangat pendek, sebuah peluang emas untuk membantu dan melayani sebanyak mungkin masyarakat. Apakah warisan yang akan aku tinggalkan dengan jabatan yang singkat ini? Kenangan dan penilaian apa yang tertanam di hati rakyat ketika aku sudah purna tugas? Panta rei. Yang jauh itu waktu yang telah berlalu. Yang besar itu nafsu. Yang berat itu amanah. Yang ringan itu mengingkari janji. Yang abadi itu amal kebajikan. Yang paling pasti itu kematian.

Sumber: Surat Dari & Untuk Pemimpin, Penulis: Komaruddin Hidayat, Hal: 116-118.

Cerita Perubahan, Mengawal Perubahan

About the author

Sebutannya dipanggil Endra, saat ini Endra mengelola beberapa web di yayasan penabulu.
No Responses to “Hijrah Membawa Berkah”

Leave a Reply