Demi Lingkungan Hidup dan Demokratisasi

Feb 07, 2015 No Comments by

Bagi emmy Hafild, lingkungan hidup adalah gairahnya sejak muda. Tatkala menjadi mahasiswa di Institut Pertanian Bogor ia sudah memilih menjadi aktivis hijau. Tak hanya fasih di ruang debat, Emmy juga tak segan ikut berdemo di lapangan.

Dia setia di jalur itu hingga kemudian terpilih sebagai Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup dan Direktur Eksekutif Greenpeace Asia Tenggara, organisasi yang lantang menentang para pencemar lingkungan.

Pada 1996, saat Emmy memimpin Walhi, untuk pertama kalinya organisasi itu membuat laporan tahunan yang lengkap dan diterbitkan untuk masyarakat. Bagi Emmy, keterbukaan sangat penting karena masih ada tuduhan Walhi condong pada kepentingan asing, bukan rakyat indonesia. Dari laporan yang transparan itu, masyarakat bisa mengetahui sendiri Walhi berdiri untuk kepentingan lingkungan dan demokratisasi di indonesia.

Emmy kemudian menjabat Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia (TII). Lingkup kerjanya meluas tak hanya urusan lingkungan, tapi juga korupsi di segala sektor. Ia berusaha mempengaruhi pembuatan kebijakan dan memberdayakan masyarakat melalui program-program kemitraan.

Setelah lengser dari TII, emmy tetap aktif dalam berbagai gerakan antikorupsi. tapi dia tetap merasa lingkungan hidup adalah “cinta pertama” dan fokus utamanya.

Tahun lalu dia menjadi Ketua Pendukung Pemenangan Komodo. Ia memperjuangkan masuknya Pulau Komodo sebagai satu dari 10 finalis kompetisi New Seven Wonder. kampanye komodo ini sempat menuai kontroversi.

Duta Besar RI untuk Swiss Djoko Susilo dan Wakil Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar mengatakan yayasan penyelenggara pemilihan itu abal-abal. Toh Emmy maju terus dan tak gentar dengan penentang. Emmy sebagai ketuanya dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Duta Komodo.

 

Never Say Never

Tentu kalian tahu kata-kata di atas, itu adalah judul lagu Justien Biebier. Sewaktu pertunjukan di Madison Square Garden, dia mengatakan begini: “Waktu saya kecil, saya selalu mengatakan ingin sekali menyanyi di Madison Square Garden, tapi orang-orang mengatakan tidak mungkin…… sekarang saya di sini dan kalian datang menonton saya. Jadi …… jangan pernah mengatakan tidak pernah (never say never)”. Justin Biebier adalah anak yang luar biasa, pekerja keras dan selalu menaruh cita-cita yang tinggi dan bertekad untuk mendapatkannya. Kita semua harus mengikuti contoh itu.

Saya mengalami sendiri hal-hal yang orang bilang tidak mungkin, ternyata dengan tekad keras dapat dilakukan. Contoh pertama adalah memprerjuangkan Taman Nasional Komodo menjadi new 7 wonders of nature (tujuh keajaiban dunia baru buatan Tuhan). Ini adalah kompetisi populer global yang diselenggarakan dari tahun 2007-2011 oleh sebuah yayasan yang bernama New 7 Wonders Foundation yang berdomisili di Swiss. Indonesia, dengan lokasi Taman Nasional Komodo, berhasil masuk final bersama dengan 27 lokasi 7 keajaiban dunia lain. Pada tahun 2010, pejabat Indonesia yang menjadi pendukung komodo terlibat konfik dengan New & Wonders Foundation, dan menyebabkan kampanye untuk memenangkan komodo terbengkalai.

Mengingat betapa pentingnya kampanye ini untuk menempatkan Indonesia di pentas global, dan meningkatkan pariwisata di NTT yang merupakan provinsi ketiga termiskin di Indonesia, maka saya dan beberapa teman memutuskan untuk mengambil alih kampanye untuk memenangkan Taman Nasional Komodo. Kami bertujuh membentuk pendukung pemenangan komodo (P2 Komodo). Tanpa berbekal uang, tanpa dukungan sponsor, kami tetap bertekad untuk maju dan mengampanyekan komodo untuk menang.

Dengan dukungan dari 3 Operator GSM terbesar di Indonesia, kami meluncurkan voting komodo lewat sms bulan Agustus 2011, padahal voting selesai tanggal 11 November 2011. Banyak orang ragu, bagaimana dapat memenangkan komodo padahal finalis lain sudah berkampanye jauh terlebih dahulu? Posisi komodo sangat tertinggal di belakang, karena tidak ada yang berkampanye selama setahun lebih sejak konflik tersebut di atas. Tambahan pula, kampanye ini digebuk habis-habisan oleh pejabat pemerintah yang menyatakan akan menarik komodo dari kompetisi. Masyarakat terbelah dengan kampanye hitam, akibatnya selama sebulan setengah setelah voting lewat sms diluncurkan, dukungan terhadap komodo super duper seret.

Tetapi kami tidak surut, berbekal kepercayaan bahwa ini adalah hal yang baik bagi bangsa Indonesia dan rakyat NTT, kami terus memeras otak dan berusaha mendapatkan dukungan dari semua pihak. Kurang dari 45 hari menuju berakhirnya voting, akhirnya kami mendapatkan dukungan dari bapak Jusuf Kalla, Slank, Ran, Ada Band, Thukul, dari seluruh media massa elektronik, cetak, dan radio. Luar biasa, dukungan terhadap komodo luar biasa, dan akhirnya Taman Nasional Komodo terpilih menjadi salah satu dari 7 keajaiban alam baru buatan Tuhan. Padahal kalau dipikir dan dianalisa secara akal sehat hampir tidak mungkin mengejar ketertinggalan komodo dari finalis lain, mengejar ketertinggalan selama 450 hari hanya dalam 45 hari. Yang tidak mungkin itu ternyata mungkin. NEVER SAY NEVER.

Contoh kedua yang baru saja terjadi adalah kemenangan Jokowi dan Ahok melawan Fauzi Bowo/Nachrowi. Pada awal banyak pihak yang meragukan apakah pasangan yang berasal dari kota kecil di luar Jakarta ini, yang tidak tahu persoalan-persoalan Jakarta, bisa terpilih menjadi gubernur Jakarta, melawan gubernur, yang puluhan tahun berkecimpung di permasalahan Jakarta, dengan dukungan 80% partai dan dana kampanye hampir tidak terbatas. Seperti David lawan Goliath tetapi mereka berdua dengan tekad membaja, dengan pendukung yang cukup militan, berhasil memenangkan pilkada di Jakarta. Hal yang setahu lalu dikatakan tidak mungkin ternyata mungkin. Jadi para generasi muda, jangan pernah percaya pada orang yang mengatakan tidak mungkin, selama kita yakin apa yang kita lakukan benar, selama ada pihak-pihak lain yang sepakat dan mendukung kalian, maka percayalah hal yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin melalui kerja keras dan kerja sama dengan berbagai pihak. Jangan pernah putus asa dan NEVER SAY NEVER.

Jakarta, 21 Agustus 2012

Sumber: Surat Dari & Untuk Pemimpin, Penulis: Emmy Hafild, Hal: 253-255.

Cerita Perubahan, Mengawal Perubahan

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Demi Lingkungan Hidup dan Demokratisasi”

Leave a Reply