Dari Nilai menjadi Teori, Prosedur dan Instrumen (10/12)

Sep 24, 2011 No Comments by

Seri 1/3 dari Bagi. 5 Manajemen Keuangan OMS ala Indonesia, dari keseluruhan 12 seri artikel berjudul Menuntaskan Dilema “Moral dan/atau Modal?” dalam Praksis Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia, ditulis oleh Hasan Bachtiar.

Keterangan lengkap tentang tulisan ini.

 

Buku Terry Lewis, Handbook Manajemen Keuangan Organisasi Masyarakat Sipil (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007; penerjemah: Hasan Bachtiar) tepat menyasar segi pengelolaan sumber daya keuangan (financial resources management) OMS. Sayangnya, buku ini dihadirkan kepada publik OMS Indonesia di tengah terlalu langkanya bahan-bahan kepustakaan ber-Bahasa Indonesia tentang peningkatan kapasitas (capacity building) OMS. Kelangkaan demikian menyebabkan OMS Indonesia, untuk sebagian besar, beroperasisecara tertatih-tatih. Kelemahan-kelemahan pada pengetahuan dan keterampilan, belum lagi arah (visi, paradigma, dan nilai), kemudian pengelolaan tubuh organisasi yang compang-camping, yang diperparah dengan miskinnya sumber daya, mengakibatkan kegagalan di mana-mana ketika mengemban tugas menyelenggarakan program-program pelayanan kemanusiaan secara efisien dan efektif. Tak pelak, nasib keberlanjutan hidup komunitas sasaran menjadi taruhannya.

Fakultas-fakultas ekonomika di kampus-kampus seantero negeri, ataupun sekolah-sekolah kejuruan bisnis dan manajemen, yang naga-naganya sudah semakin “terneoliberalisasikan”, jurusan-jurusan sosiatri (social work studies) yang gagal menemukan relevansi dan kontekstualisasi, juga para pelaku profesi konsultan manajemen dan akuntansi, harus disebut sebagai pihak-pihak yang paling bertanggung jawab(!) atas masalah ini—mereka telah lebih berpuas diri dengan sekadar berperan sebagai “hamba/pelayan modal” (the servant of capital). Akibatnya, sektor nirlaba menjadi bidang profesional yang kurang berkembang di Indonesia. Situasi sebaliknya akan dengan mudah ditemukan bila kita menengok negeri-negeri “Barat”: sektor nirlaba menjadi bidang studi dan lapangan profesional yang begitu menantang, sehingga khazanah literatur mengenai masyarakat sipil dan, khususnya, manajemen nirlaba (nonprofit management) tersedia berlimpahruah— bahkan telah disebarluaskan secara gratis melalui sarana internet.

Di tengah kelangkaan tersebut, mendahului buku ini, karya Pahala Nainggolan, Manajemen Keuangan Lembaga Nirlaba yang sudah terbit tak terlalu lama, patut disebut. Karya Nainggolan itu adalah “pionir” dalam topik manajemen keuangan OMS Indonesia, dan buku ini harus disebut melengkapinya belaka. Uraian Nainggolan tentang beragam jenis sumber pendapatan (income sources) yang bisa digalang OMS, umpamanya, membuka suatu peluang bagi OMS Indonesia untuk secara kreatif dan inovatif menciptakan sumber-sumber pendapatan yang lain dan baru pada masa depan. Di antara sumber-sumber pendapatan OMS tersebut, menurut Nainggolan, adalah:

  1. iuran anggota (membership fees);
  2. sumbangan perorangan (individual donation), baik yang bersifat bersyarat (restricted) maupun tidak bersyarat (unrestricted);
  3. imbalan pelayanan jasa (service fee), misalnya penyediaan keahlian tertentu, konsultansi, kontrak jasa (service contract), fasilitasi, dll. maupun penyewaan properti/inventaris lembaga;
  4. bagian laba (profit share) dari unit usaha komersial (commercial business unit);
  5. investasi modal (capital investment), yang bisa berupa bunga simpanan dana abadi (interest of banked endowment fund), laba saham atau dividen (divident), dan royalti karya intelektual (buku, musik, mesin, dll.); serta
  6. hibah lembaga donor (donor grant) asing/internasional, baik yang bersifat bersyarat (restricted) maupun tidak bersyarat (unrestricted)—yang, karena sudah lazim, kini mestilah dijadikan sebagai alternatif terakhir saja.

Secara sederhana, formulasi (sistem, pengetahuan, dan keterampilan) manajemen keuangan bermula dari “nilai paradigmatik” (paradigmatic values), yang lantas diturunkan menjadi “teori” (theories) dan “prosedur/aturan main” (procedures), akhirnya dipraktikkan melalui penyusunan dan penerapan “instrumen” (instruments). Terry Lewis, penyusun buku Handbook Manajemen Keuangan Organisasi Masyarakat Sipil, sudah dengan sangat baik merinci aspek-aspek manajemen keuangan yang khas OMS. Pada hemat saya, Lewis berangkat dari suatu upaya “sintesis kritis” terhadap teori akuntansi modern dan sistem manajemen keuangan yang diterapkan dalam tradisi sektor privat dan sektor publik.

Dalam Bab I buku Handbook Manajemen Keuangan Organisasi Masyarakat Sipil, Lewis mendefinisikan manajemen keuangan yang “meliputi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (implementing), pengendalian (controlling), dan pengawasan (monitoring) sumber-sumber daya keuangan (financial resources) suatu organisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya (objectives)”. Nilai-nilai paradigmatik dalam manajemen keuangan OMS adalah efisiensi, efektivitas, transparansi, serta akuntabilitas, yang oleh Lewis diterjemahkan menjadi “7 Prinsip CATCINS”: (1) Custodianship (Penjagaan), (2) Accountability (Akuntabilitas), (3) Transparency (Transparansi), (4) Consistency (Konsistensi), (5) Integrity (integritas), (6) Non-Deficit Financing (Pembiayaan Non-Defisit), dan (7) Standard Documentation (Dokumentasi Standar). Prinsip-prinsip manajemen keuangan OMS tersebut patut dianut oleh kalangan OMS Indonesia demi mewujudkan “praktik manajemen keuangan OMS yang baik”, yang mampu mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya keuangan kepada para stakeholders, terutama pemberi dana, komunitas sasaran, dan publik luas.

Dalam Bab II buku ini, Lewis menawarkan teori-teori akuntansi keuangan (financial accounting) dan akuntansi manajemen (management accounting) yang bisa dimodifikasi untuk konteks manajemen keuangan OMS. Definisi-definisi yang cukup jernih dipaparkan Lewis agar kalangan OMS dapat mengidentifikasi/mengklasifikasi pelbagai aktivitas transaksi keuangan OMS—pendapatan, belanja, utang, piutang, pembelian, pembayaran, dsb. Pada bab-bab selanjutnya, Lewis menjelaskan fungsi-fungsi manajemen keuangan OMS secara cukup gamblang, misalnya perencanaan dan penganggaran, penyusunan bagan akun, pembuatan catatan-catatan keuangan atau akun-akun, hingga menyusun laporan keuangan (financial report/statement) yang bersifat internal maupun eksternal. Bahkan, dalam Bab VI, Lewis juga memaparkan bagaimana masalah-masalah “penyelewengan” (frauds) dalam manajemen keuangan OMS mesti ditangani. Pada Bab VII, Lewis menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa audit keuangan penting diterapkan terhadap manajemen keuangan OMS. Secara internal, audit bakal memastikan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumber daya keuangan OMS serta konsistensi prosedural; secara eksternal, audit menjamin akuntabilitas sosial OMS.

Beberapa macam instrumen keuangan, yang boleh dipakai sebagai “templates”, diajukan oleh Lewis pada bagian Lampiran buku ini. Demi memenuhi kebutuhan atau konteks manajemen keuangan OMS ala Indonesia, saya telah mengembangkan dan menambahkan beberapa instrumen lainnya— termasuk menerjemahkan “Instrumen Pemeriksaan Kesehatan (INSPEK) Manajemen Keuangan OMS” karya Alex Jacobs, yang saya download dari bagian lain dalam situs internet MANGO.

Selain itu, buku ini dilengkapi pula dengan sebuah Daftar Istilah (glossary) pada bagian akhirnya— yang juga telah saya tambah-lengkapi, dari 65 menjadi 144 lema. Tujuannya, tiada lain, adalah untuk membantu para pelaku manajemen keuangan OMS Indonesia, apapun latar belakangnya (tidak harus “sarjana akuntansi”!), agar dapat memahami istilah-istilah manajemen keuangan dan akuntansi yang, harus diakui, cukup banyak lagi amat teknis.

Dari seluruh isi buku ini, yang perlu selalu diingat, menurut Lewis dalam Bab II, “Karakter setiap OMS berbeda antara satu dengan lainnya. Akibatnya, tidak ada apa yang disebut sebagai satu saja ‘model’ sistem keuangan yang mutlak benar, yang wajib diacu oleh semua OMS.” Saya pun menyetujui Lewis: alangkah “totaliter” setiap pendapat yang menyetujui penyeragaman atas semua hal, bukan? Maka, buku ini harus dilihat sebagai “bahan baku dasar” belaka, yang mesti diolahkembangkan lebih lanjut, secara kontekstual, oleh masing-masing OMS di Indonesia dalam menyusun dan menyelenggarakan manajemen keuangannya.

Posisi, Peran, dan Misi, Sistem dan Mekanisme

About the author

The author didnt add any Information to his profile yet
No Responses to “Dari Nilai menjadi Teori, Prosedur dan Instrumen (10/12)”

Leave a Reply